ADAKAH BERHALA PADA DIRI KITA?
Oleh: Adhy Margono
Tada seorang pun yang tidak memerlukan Allah.Allah-lahyang telah menciptakan kita dari tiada. Dan kita sebelum keberadaan diri kita dalam rahim ibu kita. Bukanlah apa-apa, kita berada di tanah . Dan ketika Allah berkehendak
untuk menciptakan kita, maka terbentuklah alaqoh (darah), kemudian mudhah
(daging) setelah itu janin dan berikutnya bayi yang keluar ke dunia. Allah SWT
berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”( An-nahl:78).
Tidak ada tuhan selain Allah. Maka marilah kita pikirkan diri kita,langit dan bumi yang diciptakan oleh Allah, untuk kemudian kita masing-masing bertanya kepada dirinya. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Adakah penciptaan selain Allah yang dapat memberikan Rizki kepada kamu dari langit dan bumi?” (Fathir:3)
Siapa selain Allah yang mendatangkan air bagi kita? Allah SWT berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
“ Katakanlah, Terangkanlah kepada-Ku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”(Al-Mulk:30).
A. SYIRIK
Syirik adalah menyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yang dapat memberikan manfaat atau mudharat maka jika keadaannya seperti itu, alangkah zalimnya seorag hamba ketika ia meminta kepada selain Allah dan meminta bantuan kepada selain-Nya. Dan jika seorang hamba meyakini bahwa selain Allah dapat mendatangkan manfaat atau menjauhkan bahaya, maka itu ada dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Syirik ada 2 macam: Yaitu :
-Syirik Jali adalah meyakini adanya pihak selain Allah yang memberikan
manfaat dan mudharat. Seperti meyakini kekuatan seperti itu pada orang-orang yang mereka namakan sebagai wali, baik yang hidup utau yang mati.
-Syirik Khafi adalah kemusyrikan yang keberadaannya tersembunyi dari manusia, ditinjau dari segi bentuknya. Seperti ketika seorang melihat dirinya dangan pandanga yang mengagumkan dan menyakini bahwa yang Allah anugerahkan kepadanya sebagai milik pribadi.
B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MERASA BESARNYA
DIRI DAN ADANYA BERHALA DALAM DIRI
1. Kejahilan terhadap Allah
Kejahilan kepada Allah merupakan salah satu faktor terpenting yang mengantarkan seorang untuk ujub kepada dirinya sendiri.kita semua mendapatkan kekuatan dari Allah, dari detik ke detik. benar, Allah SWT telah memberikan kita berbagai sebab, potensi, dan kemampuan seperti kecerdasan, keluwesan, atau kepandaian bicara. Namun, semua kemampuan itu tidak mempunyai nilai apa-apa tanpa kekuatan yang aktif dari Allah SWT. Selain itu kita juga harus menjauhkan diri dari kejahilan terhadap tabiat jiwa. Seperti orang jahiliah tidak melihat konsekuensi dari pekerjaan yang ia lakukan, seperti bayi yang tidak pernah bosan meminta kepada kedua orang tuanya untuk mendapatkan sesuatu yang barang kali di dalamnya ada sesuatu bahaya baginya. Itulah nafsu yang buruk untuk mengerjakan apa yang menghasilkan kemaslahatn nya
.
2. Mempunyai kekuasan dan jabatan yang tinggi
Semua orang yang mempunyai jabatan, meskipun kecil, niscaya ia akan mendapati ruang untuk bergerak dengan tanpa mendapatkan halangan dari se-orang pun, juga ia akan mendapati orang yang memujinya. Namrud misalnya, tentu tidak akan mengklaim sebagai tuhan jika ia seorang yang fakir dan terkenal di tengah manusia. Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“ Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang mendebat ibrahim tentang tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu Pemerintahan (kekuasaan)?”(Al-Baqoroh:258).Kekuasaan itu, seperti dijelaskan Al-qur`an, menjadi faktor penyebab kesombongannya, pelanggarannya dan keberaniannya untukmengaku sebagai tuhan
3. Jarang Bergaul dengan Orang-orang yang Setara dan Tidak Ada yang Memberinya Nasehat.
Ketika seseorang yang memiliki kelebihan dan keberhasilan mendapati bahwaorang-orang di sekelilingnya lebih rendah tingkatannya dari dirinya, maka hal ini tentu akan menyiapkan dirinya sedikit demi sedikit untuk menerima penyakitujub itu dan membuat penyakit itu bersarang dalamnya. Salah satu penyebab yang termasuk dalam fktor ini adalah tidak adanya orang yangmenasehati orang tersebut, karena nasehat dan komentar oragng lain atas perilakunya akan berperan besar dalam membuat manusia menyadari kediriannya. Dan menghalanginya untuk tidak menganggap besar dirinya. Maka jika nasehat itu tidak ada, niscaya rasa ujub itu akan menemukan jalan yang luas untuk memasuki dirinya. Oleh karena itu, U mar Ibnu Khathab berkata, “ SemogaAllah merahmati orang yang menunjukkan aib saya.”
4. Banyak Berbicara tentang Diri Sendiri
Anda akan mendapati bahwa salah seorang dari kita banyak berbicara tentang dirinya dan memuji dirisendiri, terutama jika ia merasa sebagai dalam suatu sisi. Seorang pelajar misalnya, berbicara tentang kehebatannya dalam belajar, serta kemampuannya dalam memahami dan memecahkan masalah- masalah yang sulit. Seorang ibu rumah tangga membaggakan rumahnya dan kebersihan rumahnya, untuk itu dia menisbahkan hal itu kepada dirinya, dan tidak mengambilkannya kepada anugrah Rabbnya. Diantara bentuk pengaruh melihat diri sebagai sosokyang hebat, dan melupakan bahwa Allah lah yang memiliki semuaanugrah dan pemberian itu adalah orang yang setiap memberikan sesuatu kepada orang lain atau memberikan jasa kepadanya, niscaya ia akan mengungkit-ngungkitnya dan menggunakan kesempatan yang tepat untukmengingatkannya tentang jasa-jasa dan pemberiannya itu.
5. Menganggap Kecil Orang Lain
Diantara bentuk pemujaan terhadap diri adalah mencari orang lain, dan memandang diri sendiri selalu lebih tinggi dan lebih utama dari mereka, terutama dalam sisi yang ia aggap besar dalam dirinya, baik dalam masalah status sosial, keturunan, harta, kecerdasan, atau gelar. Maka anda akan lihat dia segan berinteraksi atau bergaul dengan orang yang lebih rendah tingkatannya dari dirinya. Para sahabat Nabi saw. Merasa takut terhadap penyakit ini. Seperti Umar ibnul Khatab yang takut jika dalam dirinya masih ada sisa kesombongan dan merasa diri besar karena di orang arab. Maka ia ingin menghauskan perasaan itu dan menegaskan bersihnya dirinya dari perasaan seperti itu dengan meminta kepada Salman untuk menikahi putrinya.
C. Cara Menghilangkan Berhala dari Diri Kita
1. Memohon Kesembuhan Kepada Allah SWT.
Hal pertama yang harus di maklumi adalah penyakit mengagumi diri sendiri dan merasa diri besar adalah penyakit yang sukar disembuhkan Ibnu Aqil Mengatakan : “ Ketika seorang manusia memakai egonya sebagai pakaian (yakni bersikap ujub), maka jarang sekali ia dapat mengeluarkan kealanya dari leher pakaian itu.” Walaupun demikian, tidak ada sesuatu pun yang berat atau sukar bagi Allah swt.. Dan tidak ada suatu penyakit pun yang di turunkan oleh Allah tanpa ia menurunkan obat penawarnya. Allah Berfirman :
وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا
“…jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu…” (An-Nisaa`:35).
Dan juga dapat dipahami dari hadits Qudsi:
“Wahai hamba-hamba-Ku, kamu semua adalah sesat kecuali orang-orang yang kuberi petunjuk.Karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku,niscaya Aku akan menunjukimu.” (HR. MUSLIM)
Hendaknya kita mengetahui bahwa bantuan Allah akan datang sesuai dengan persiapan kita, seukuran mana besar bejana yang kita persiapkan,seukuran itu pula pertolonga dan karunia yang akan Allah berikan. Allah Maha Pemurah tidak akan menolak sitiap peminta yang datang mengetuk pintu-Nya. Tetapi kitalah sebenarnya yang banyak menganiaya diri kita dan bersikap kikir untuk diri sendiri dan enggan meminta kepada Allah SWT. Salah satu bentuk terapi Rabbani yang paling penting untuk membebaskan seorang hamba dari penyakit mengagumi diri sendiri dan memandang diri dengan membiarkan si hamba melakukan dosa. Dan ketika itulah ia baru menyadari hakikat dirinya.
2. Mengenal Allah Yang Maha Pemberi Nikmat
Mengenal Allah memiliki arti besar dalam menundukkan hati kepada-Nya
seperti: rendah diri, luluh,takut dan butuh kepada-Nya. Untuk mengenal Allah dan Sifat
Allah, Ada dua sarana yang paling pokok yang telah Allah sediakan kepada kita yakni: Pertama, Kitabullah yang di baca (Al-Qur`an), Kedua, Kitabullah yang diamati (Alam Raya). Diantara ciri-ciri yang paling menonjol dari Kitabullah yang dibaca adalah ia merupakan Kitab yang memperkenalkan Allah dengan menyebutkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Dengan Pertolongan Allah dan Karunia-Nya, yang dapat membantu kita dalam menghancurkan keberhalaan diri kita ada Tiga, yaitu:
1. Mengenal Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
2. Mengenal Allah Al-Qayyuum (yang Maha berdiri sendiri lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya)
D. MENGENAL HAKEKAT MANUSIA DAN WATAK DIRINYA
Target dari mengenal hakekat manusia adalah keyakinan terhadap kelemahan, ketidak berdayaan, kebodohan, dan kebutuhannya kepada segala apa yang dapat meluruskan dan memperbaiki dirinya. Apabila manusia telah meyakini hal ini, maka akan nyatalah sejauh mana ia membutuhkan Rabb-nya, dan sadarlah ia bahwa seandainya Rab-nya membiarkannya, walaupun sekedip mata , sungguh ia akan binasa dalam waktu itu juga. asal manusia adalah tanah yang di injak-injaknya, tanah yang dalam pandangannya tidak punya nilai apa-apa. Sementara awal penciptaanya adalah dari mani yang menjijikkan
قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17) مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20)
“Binasalah manusia, alangkah sangat kekafirannya! Dari apakah Allah menciptakannya? Allah menciptakan dari setetes mani, lalu menentukannya.Kemudian Dia memudahkan jalannya.” (`Abasa: 17-20).
Jadi asal kita adalah sesuatu yang hina. Tubuh kita ternyata tidak terbentuk dari bahan tambang gerharga. Malah unsur –unsurnya sama sekali tidak berbeda dengan unsur-unsur tanah. Allah SWT menciptakan manusia dalam ukuran yang sangat kecil jika dibandingkan dengan alam raya yang mengelilinginya dari berbagai arah. Langit yang bertingkat-tingkat dan gunung-gunung yang menjulang tinggi, punya peran besar dalam menyadarkan manusia akan kekerdilannya, sehingga hal itu dapat menghaus kebohongan dari diri manusia. Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan lemah dalam segala hal, sehingga ia tidak pernah mampu melawan godaan-godaan setan. di antara surah surah yang membeberkan kepada manusia akan kelemahan dirinya ialah pada saat seekor serangga seperti nyamuk, misalnya hinggap di tubuhnya tanpa ia mampu mengusir atau menepis sengatanya.seorang pria ingin istrinya melahirkan bayi laki-laki tapi yang lahir justru bayi perempuan. Seorang ibu mendambakan seorang anak yang mirip dengan dia ternyata yang lahir lebih mirp suaminya. Berbagai kejadian yang di alami oleh seorang hamba adalah surat yang seolah-olah menyampekan kepadanya, “Seandainya kamu mengetahui hal yang gaib, sungguh kamu tidak akan melakukan apa yang telah kamu lakukan !” Hendaknya kita tidak me,percayai dan berbaik sangka kepada diri kita sendiri. Sebab ia tidak akan pernah menyuruh kepada kebaikan. sebagaimana diri {jiwa}manusia berpotensi untuk melakukan kefasikan dan ksewenang-wenangan (kesesatan), ia juga berpotensi untuk bersikap tenang dan awas. Hal ini seperti di terangkan dalam Al-Qur’an,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaanya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwa-anya.” (asy-syams: 7-8)
Diri perlu diinstropeksidalam bamyak aspek yang mencakup segala perintah dan larangan Allah. Nanun, yang menjadi fokus kita berkaitan dengan masalah penyembuhan penyakit ujub adalah menginstropeks idiri dalamaspek dalam penunaian hak Allah.dari ketrerangan tersebut, jelaslah bagi kita bahwa cara yang paling penting untuk meremehkan diri dan memandang kurang amal yang telah di kerjakan adalah dengan mengenal watak diri kita. apabila kesombongan adalah pandangan seorang yang melihat dirinya besar, yang kemudian tercermin pada tindak-tanduk dan sikapnya terhadap orang lain, maka tawadhu adalah kebalikan semua itu. karena itu setiap hamba yang menyadari hal tersebut tentu akan membebani dirinya dengan segala hal yang di sukai oleh Robb-nya.apabila hakekat tawadhu adlah seorang hamba melihat dirinya kecil, maka hakekat ini membutuhkan perbuatn (amal) yang dapat memantapkan maknanya di dalam hati dan membuatnya mendalam di jiwa.banyak sekali bentuk atau rupa tawadhu. Semuanya bersumber pada memandang diri kecil, dan mencakup berbagai macam hubungan, yaitu hubungan hamba dengan Rabb-nya, hubungan hamba dengan dirinya aendiri, sertahubungan dengan hamba sesamanya.
Bentuk-bentuk Tawadhu
-Banyak bersujud
-Menunjukkan Kehinaan Diri Dalam Berdo’a
-Tawadhu Ketika Dalam Keadaan Kesulitan Dan keusahan.
Salah satu sikap tawadhu terhadap dirinya sendiri yang paling penting adalah tidak menawarkan diri sendiriuntuk melaksanakan suati tugas, juga memandang dirinya tidak patut untuk melakukan tugas yang di mintakan atau di tawarkan kepadanya.sikap tawadhu seorang terhadap dirinya juga di cerminkan dengan tidak berlagak sombong dan pongah ketika berjalan. Akan tetapi, berjalan sebagai mana Allah menyifatkan hamba-hamba-Nya
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
,”…orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati…”(Al-furqaan: 63)
Sikap tawadhu terhadap orang lain mengacu terhadap hakekat bahwa kita tidak lebih baik dari mereka, bagaimanapun pangkat, ilmu dan ibadah kta. Sebagai contoh, duduk bersama dengan orang-orang fkir miskin, makan brsama mereka serta berbincang-bincang dengan mereka.
E. MENUTUP PINTU DI DEPAN NAFSU
Apabila nafsu manusia selalu berusaha untuk mendapat bagianya dalam setiap amal perbuatanya ang dikerjakan oleh hamba, sebagaimana telah kita maklumi, maka hendaknya kita maklumi pula bahwa usahanya usahanyaitu akan terus bertambah gigih pada beberapa kondisi tertentu. Karena itu, kita mesti selalu dalam keadaan siap siaga dan terus berupaya untuk tidak memberikan jalan kepadanya
1. Ketika Memperoleh Nikmat
Dari waktu kewaktu, nikmat-nikmat besar terus mengalir kepada setiap hamba, seperti bertambah rejeki, sukses dalam belajar atau bekerja, bisa membeli rumah baru atasu mengganti mebel baru, dan sebagainya.
2. Ketika Berhasil Melaksanakan Suatu Amal Perbuatan
Ketika berhasil melaksanakan suatu amal yang istimewa, misalnya mendirikan sholat malam, mengajak muslim yang tersesat ke masjid, amar makruf nahi mungkar, dan lain sebagainya.
3. Ketika Mendapat Sanjungan
Ini adlah pintu yang paling berbahaya. Jika di buka di depan nafsu, maka ia akan menemukan lahan yang subur untuk membusungkan dan mengagung-agungkan dirinya. Ini adalah minuman manis dan lezat yang memabukkan serta membuatnya seperti hidu melayang-layang di udara kemabukan, kegembiraan dan keceriaan.
4. Ketika Banyak Bergaul dan Berada di Majelis-majelis yang Tidak Berfaedah
Beberapa kondisi yang memberikan kesempatan bagus bagi nafsu untuk mendesak tuanya untuk memuji dan mengagungkan dirinya, ialah pada saat bergaul dan saat berda dalam majelis-majelis yang tidak faedah sehingga terkadang tanpa sadar seseorang telah membicarakan tentang dirinya, kerjanya, dan kehidupan pribadinya
PENYEMBUHAN MELALUI AL-QUR’AN
1.Kita dapat mengenal allah swt
2.Kita dapat mengenal diri kita
3.Al-Qur’an memberikan resep-resep penyembuhan bagi mereka yang terkena penyakit sombong, berlebihan dalam menilai diri dan mengagumi diri sendiri
4.Al-qur’an senantiasa mengingatkan pembacanya kepada Allah swt
F.PERAN PERHATIAN DAN PENDIDIKAN (AT-TA’AHUD WAT TARBIYAH) DALAM MENYEMBUHKAN UJUB
1.Makna pendidikan
Salah satu makna pendidikan ialah proses mengubah teori-teori menjadi tingkah laku. Hal ini tentu tidak akan terwujut, kecuali dengan suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dan pengawasan yang baik.DR. Jaudat sa’id mengemukakan,”Permasalahan tidak hanya terbatas tidak adanya gagasan (ide),tetapi lebih karena itu, adalah mengubah gagasan menjadi keyakinan yang mengambil peran dalam tingkah laku praktis melalui manusia. Karena itu, adnya gagasan lebih tidak meniscayakan keyakinan manusia terhadap gagasan tersebut dengan suatu keyakinan yang tampak dalam tingkah laku dan masuk kedalam bawah sadarnya.
2.Bentuk-bentuk pendidikan
Bentuk bentuk-pendidikan (tarbiah) yang bisa dilakukan
Mendidik diri sendiri
Didikan orang tua
Didikan orang lain
a. Mendidik diri sendiri
Mendidik dan memperhatikan diri sendiri setapk demi setapak merupakan suatu kelaziman bagi mereka yang ingin selalu beristiqomah di jalan Allah. Hendaknya kita bukan saja merasa tidak puas dengan kenyataan yang kita alami, atau hanya mencukupkan diri pada keyakinan bahwa kita perlu mengubah rasa besar diri dan istimewa dari orang lain yang terdapat pada diri kita. Akan teapi, kita harus bekerja keras untuk mengubah kenyataan tersebut.
1.Tanggung jawab bersifat individual
Tangung jawab di hadapan Allah swt. sesungguhnya bersifat individual. Kita semua akan masuk ke kubur sendiri-sendiri.
2.Takut kepada Allah
Takut kepada Allah memiliki andil besar menggugah hati dari kelaleanya. Takut kepada Allah swt. tisdak ubahnya cambuk yang mengenai kalbu untuk membangunkan ia dari kelelapanya, memancing kesiagaan dan kemauanya untuk menyingsingkan lengan dalam perjalananya menuju Allah swt. tanpa takut kepada Allah, hati akan terus nyenyak dan tidak pernah peduli terhadap suatu apapun
.
3. Mendirikan Sholat Malam (Tahajud)
Sholat malam (tahajud) adalah lembaga penempaan keikhlasan, ladang tempat benih-benih ketulusan hati di semai, yang kemudian dapat di petik hasilnya di siang hari
G. KESAMARAN (SYUBHAT) YANG HARUS DI PERJELAS
Ada beberapa hal yang barang kali tidak dapat kita lihat dengan jelas, sehingga kita merasakan ada kontradiksi antra hal-hal tersebut dengan pengertian meremehkan diri dan mengikis berbagai bentuk kesombongan dan besar diri. Diantara keyakinan yang harus dipercayai oleh muslim adalah tidak adanya kerajaan yang hakiki bagi siapa pun di alam raya ini, kecuali bagi Allah swt Hanya Dia-lah pemilik yang hakiki bagi segenap kerajaan langit dan bumi.
أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
“Tidaklah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah…?(al-baqarah:107)
Karena itu, segala sesuatu yang terlihat oleh kita atau pun tidak, adalah milik Allah semata. Tidak ada suatu pun yang di miliki oleh selai-Nya, walaupun itu seberat dzarrah.
“Waallah ‘A’lam Bishoowab………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar